Wednesday, May 01, 2013

Media Massa: Pencipta Industri Budaya Pencerahan yang Menipu Massa Studi Simulacra dan Hiperrealitas Film AVATAR


oleh
Yoyoh Hereyah
Dosen Universitas Mercubuana Jakarta
ABSTRACT
Globalization affects virtually all aspects of the society, including cultural aspects. Culture can be defined as values embraced by society or perception held by citizens of various things. Globalization as a symptom of the range of the values and culture of particular overlooks the world (so that it becomes ‘world culture’) have been seen since long. The Film is a form of mass media that bring values, cultures and ideologi of his creator. The concept of cultivations of cultural values is embedded through the ideas, stories, characters, special effects and the distribution of a film. Avatar upholds the value and ideologi from its producers.  

Keywords: film studies, globalization, hegemony, hyperreality, simulacra


Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajahan Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini (Pye,1966).
Di sisi lain, interaksi cultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, music, dan transmisi berita dan olahraga internasional), memungkinkan kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beranekaragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
Dan berkah desa global ( Marshall Mc. Luhan, 1967: 36) telah menciptakan apa yang disebut dengan gaya hidup Global (The Global Life Style). Gaya hidup global yang dibawa oleh Media Massa ditandai dengan membanjirnya produk impor atau dari multinational corporation yang secara massal mengembangkan industrinya hampir di seluruh dunia, seperti pakaian, minuman, aksesoris, rumah tangga,  parfum sampai pada jenis hiburan, musik, film, sinetron, lagu-lagu klasik dan popular, dalam bentuk vcd yang memungkinkan orang dapat memutar sendiri dirumah-rumah. Produk produk tersebut telah mendorong warga desa global sebagai konsumen aktif, lebih besar sebagai pengguna produk-produk tersebut daripada harus menjadi pembuatnya.
Terkait dengan hal di atas, salah satunya adalah film sebagai produk dan bentuk industri komunikasi massa yang memberi peranan tidak sedikit dalam ‘the global deal market’s tersebut. film Avatar, menjadi fenomenal untuk saat ini, dilihat dari jumlah penonton dan pemasukan uang yang melampaui film Titanic.
Film adalah salah satu produk dari budaya massa yang juga memenuhi ruang gerak manusia. Setiap tahunnya film selalu diproduksi secara massal untuk memenuhi kebutuhan khalayak yang sengaja dicipta oleh produsen agar tetap dapat menguasai produk-produk budaya massa. Avatar adalah salah satu film ‘boom’ dari segi perolehan  finansial dan jumlah penonton.  Ketertarikan para menonton melihat film tersebut, salaah satunya dipicu oleh special effect yang diciptakan oleh produsen, sebagai daya tarik yang kuat dari film tersebut. Produk budaya massa sebagai hasil produk kapitalis senantiasa menangkap hal-hal yang dapat memuaskan selera imaji penontonnya.
Dalam kondisi dunia yang demikian, budaya massa diproduksi besar-besaran berdasar perhitungan dagang belaka. Budaya massa mencakup seluruh produk terpakai atau barang konsumsi sebagai produk massal dan fashionable. Budaya massa tidak dapat lepas dari pola hiburan masyarakat. Istilah budaya massa sering dipertukarkan dengan budaya popular. Budaya massa tidak hanya bersifat hiburan, tetapi mencakup pula seluruh produk terpakai atau barang konsumsi sebagai produk massal dan fashionable yang formatnya terstandarisasi dan penyebaran dan penggunaannya bersifat luas (Ibrahim,1997:13)
Standar-standar yang diberlakukan untuk melayani kebutuhan konsumen secara cepat dan untuk alasan itulah industri budaya diterima dan munculnya lingkaran dari manipulasi dan kebutuhan dimana sebuah kesatuan sistem bertumbuh dengan kuat.
Konsep budaya massa menurut konsep barat bersifat komersial, menghibur, populer, modern, merupakan paket, mempunyai audiens luas, dan dapat diperoleh secara ‘demokratis’ (Ibrahim,1997). Industri media massa dengan hasil produk-produknya disinyalir sebagai industri yang melahirkan kebudayaan pencerahan bagi masyarakat massa.
Perkembangan teknologi komunikasi amat memperluas lapangan budaya dengan memperlancar interaksi sosial yang tidak terikat pada ruang fisik. Dengan kata lain, deliveri budaya massa yang mengandalkan teknologi komunikasi memperlancar interaksi sosial mengatasi jarak fisik mengalami bentuk barunya. Adanya kemajuan dan perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi memungkinkan media massa sebagai media budaya (Paul Willis, 1990 dalam James Lull, hlm.194)
Sejalan dengan pemikiran Paul Willis, Theodor Adorno (1903-1969) dan Max Horkheimer (1895-1973), yang berpendapat dalam bukunya “The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception,” menjelaskan tentang budaya industri yang diciptakan media sebagai budaya pencerahan bagi massa. ‘the culture industry claims to serve the consumers’ needs for entertainment, and is delivering what the consumer wants… Culture industries may cultivate false needs; that is, needs created and satisfied by capitalism”.
Dalam pengertian keduanya, budaya popular adalah serupa dengan sebuah pabrik yang memproduksi barang standar budaya, kenikmatan yang mudah tersedia melali konsumsi budaya populer membuat orang patuh dan tidak protes, tidak peduli apakah keadaan ekonomi mereka sulit. Budaya industri memunculkan dan menumbuhkan kebutuhan palsu, yaitu kebutuhan dan kepuasan yang dibuat oleh kapitalisme.
Di bawah monopoli, semua kebudayaan massa adalah identik, kekerasanya menjadi lebih terbuka sehingga kekuasaanya berkembang. Reproduksi tertentu adalah keniscayaan bahwa kebutuhan-kebutuhan identik perlu untuk dipuaskan dengan barang-barang yang identik. Sebagai contoh film-film dan radio tidak butuh lagi berpretensi sebagai seni.
Media terutama media massa adalah agen kebudayaan yang penting, mekanisme kerja media telah mengelola fakta menjadi berita yang memang telah diharapkan, media bukan hanya mempresentasikan realitas, ia juga memproduksinya. Bila berita adalah fakta plus makna, maka media telah mengubah fakta menjadi fakta yang lebih kuat daya persuasinya kepada masyarakat. Mereka merekayasa citra dari bahan data fakta ini secara kreatif menjadi citra yang kaya pesan, kenikmatan dan makna.
Tidaklah mengherankan bila massa ini kerap disebut ‘the era of imagology’. Ketika citra menjadi lebih penting dari realitas empiriknya. Seperti kita maklumi, realitas citra tidak menginduk pada realitas empirik tetapi pada realitas simboliknya. Itulah kenapa pebisnis yang sukses ditayangkan dalam media massa bergaya dengan mobil BMW, yatch, heli atau bahkan jet pribadi mereka. Mereka inilah yang sering disebut selebritis. Dan, selebritis adalah ciptaan media. (Ibrahim, 1997: 85)
Film dalam kerangka yang sama juga melakukan ‘imagology’ bagi penontonnya. Ketika citra menjadi lebih penting dari realitas sesungguhnya. Film Avatar menawarkan ‘imamology’ tertentu kepada penonton, sehingga penonton tidak bisa lagi melihat mana yang imagi dan realitas sesungguhnya.
Kita mengenal jarak realitas empiric dan realitas mimpi yang dijembatani oleh media. Sejalan dengan pemikiran Baudrillard tentang teori hyper-reality dan simulation. Konsep ini sepenuhnya mengacu pada kondisi realitas budaya yang virtual ataupun artificial di dalam era berbagai bentuk simulasi (penggambaran dengan peniruan). Simulasi itulah yang mencitrakan sebuah realitas yang pada hakikatnya tidak senyata realitas  yang sesungguhnya. Realitas yang “tidak sesunguhnya” tetapi dicitrakan sebagai realitas yang mendeterminasi kesadaran “kita” itulah yang disebut dengan realitas semu (hyper-reality). Realitas ini tampil melalui media-media yang menjadi “kiblat” utama masyarakat massa.
Melalui media realitas-realitas dikonstruk dan ditampilkan dengan simulators, dan pada gilirannya menggugus menjadi gugusan-gugusan imaji yang “menuntun” manusia modern pada kesadaran yang ditampilkan oleh simulator-simulator tersebut, inilah yang disebut gugusan simulacra. Simulator-simulator itu antara lain muncul dalam bentuk iklan, film, cybernetics, kuis, sinetron, dan lain-lain yang tampil dalam TV atau media lain yang mengobrak kepuasan fashion,food, dan funs. (Jean Baudrillard, “Simulacra and Simulations”, dalam Jean Baudrillard, Selected Writings, ed. By Mark Poster (Cambgride: Polity Press, 1988) hal:166).
Indonesia, merupakan negara dengan nilai-nilai dunia ketiga, yang dalam konteks struktur internasional disebut negara periphery. Arus informasi dari negara-negara pusat, khususnya Amerika, telah melaju dengan cepat ke Indonesia, bukan hanya dalam bentuk kegiatan perekonomian sekaligus juga budaya. Penyebaran budaya dari negara ‘core’ sangat terasa, terutama dengan adanya tayangan film dan media televisi. Hal ini  mempengaruhi budaya yang diterima  masyarakat melalui media massa seperti media televisi, film, media cetak, radio yang sedikit banyak bisa berpotensi mengubah perilaku dan persepsi masyarakat terhadap sesuatu nilai atau budaya yang selama ini dipegang teguh.
Media massa di Indonesia sebagai alat yang memungkinkan penyebaran nilai, ideologi dan budaya sudah dikendalikan oleh kekuatan besar sebagai dampak globalisasi berbagai bidang kehidupan yang mau tidak mau harus dihadapi. Media pencerahan yang didengungkan menjadi adagium yang kontras dengan kenyataan.
Fenomena ‘boomingnya’ film avatar termasuk di Indonesia mengindikasikan adanya penyitiran nilai, budaya dan ideologi yang ingin ditanamkan oleh produsen film tersebut. Fungsi media massa yang mencerdaskan sudah terkalahkan dengan ideologi kapitalis pengusaha media.
Berangkat dari latar belakang tersebut, yang harus dicermati dalam hal ini adalah permasalahan bagaimana peran media massa film dalam penciptaan industri kebudayaan pencerahaan sebagai penipuan massa. Ini penting mengingat bahwa media massa film sebagai pencipta industri kebudayaan pencerahan dan di sisi yang lain, film berperan penting dalam penciptaan industri kebudayaan pencerahan yang melakukan penipuan massa melalui proses hegemoni, ideologi, dan simulacra sehingga terjadi krisis identitas karakter bangsa.
KERANGKA PEMIKIRAN
James Lull menjelaskan tiga konsep dalam analisis kajian kritis dan pendekatan cultural yaitu ideologi, kesadaran, dan hegemoni. Ideologi merupakan sistim pengetahuan yang berkaitan dengan pencapaian tujuan dan kepentingan tertentu, Dan menggunakan symbol untuk hadir ditengah-tengah masyarakat. Ideologi berkaitan dengan sistem imaji, yang dapat diuraikan sebagai berikut: Aspek Ideasional disini berkaitan dengan unsure (morphem), organisasi aturan kebahasaan dimana ideologi dihadirkan. Aspek mediasional yang meliputi aspek teknologi dan interaksi. Aspek teknologi berkaitan dengan media yang digunakan dalam menyampaikan ideologi. Jadi disini berkaitan dengan pendekatan mediated dalam proses komunikasi.
Kesadaran adalah melihat bagaimana karakteristik media menentukan persepsi khalayak. Maka disini proses kesadaran berkaitan dengan jenis medium. Pengaruh media yang sangat kuat sehingga siapa pun yang mengendalikan media berarti mereka yang memiliki kemampuan dalam mempengaruhi kesadaran. Dalam kondisi kehidupan masyarakat yang masyarakat. Bahwa era media telah membuat persoalan tempat menjadi tidak berarti. Kehadiran media, juga berkaitan dengan nilai-nilai budaya tertentu. Bagaimana masyarakat mempersepsi dan member makna terhadap ‘sesuatu’, teknolagi media ikut dipengaruhi nilai nilai yang telah ada disana. Demiian pulsa kehadiran teknologi media ikut membentuk budaya baru bagi suatu masyarakat.
Hegemoni berkaitan dengan kemampuan pengetahuan dalam rangka melakukan pendudukan secara halus, di mana pihak yang ditundukkan menerima hal itu seolah-olah sebagai suatu yang wajar. Terdapat banyak fenomena hegemoni dalam keseharian sebagai akibat proses komunikasi, hegemoni sangat berkaitan dengan aspek ideologi dan kesadaran hegemoni menandakan tampilnya suatu ideologi dominan tertentu yang mampu mempengaruhi kesadaran orang banyak. Media di antaranya melakukan peran dalam proses membangun hegemoni ini. Ideologi, kesadaran dan hegemon membentuk pola hubungan median dengan massa.
Menurut James Lull (1998:2) “manipulasi yang dilakukan tanpa henti terhadap informasi dan citra publik mengkonstruksikan suatu ideologi dominan yang kuat yang membantu menopang kepentingan material dan kultural para penciptanya. Para pembuat ideologi yang dominan menjadi suatu ‘elite informasi’. Kekuasaan dan dominasi mereka bergerak dari kemampuan mereka untuk mengartikulasikan kepada masyarakat sistem ide yang lebih mereka sukai. Ideologi mempunyai kekuatan apabila dapat dilambangkan dan dikomunikasikan. Dalam hal ini ideologi kapitalisme ditransmisikan dengan cara ”tatabahasa produksi” (grammar of production) yang melaluinya media menguniversalkan suatu gaya hidup.
Raymond Williams menyebut ideologi sebagai himpunan ide-ide yang muncul dari seperangkat kepentingan material tertentu, atau secara lebih luas dari sebuah kelas atau kelompok tertentu. Hal tersebut ditegaskan oleh Stuart Hall yang berpendapat bahwa ideologi, bukan hanya otoritas ekonomi, berfungsi membentuk dan mempertahankan pembagian kelas dalam masyarakat kapitalis.


Hegemoni Antonio Gramsci
            Menurut teori Gramsci mengenai Hegemoni, media massa adalah alat yang digunakan elit yang berkuasa untuk melestarikan, kekuasaan, kekayaan dan status mereka (dengan mempopulerkan) falsafah, kebudayaan dan moralitas mereka sendiri. Para pemilik dan pengelola industri media dapat memproduksi dan mereproduksi isi, dan nada dari ide-ide yang menguntungkan mereka dengan jauh lebih mudah ketimbang kelompok sosial lain (Ibrahim , 1997). Hegemoni sebenarnya sama dengan dominasi yang berarti penaklukan. Bedanya, dominasi merupakan penaklukan secara keras dengan menggunakan kekuatan koersi (memaksa) seperti pengadilan, kepolisian, dan militer. Sementara hegemoni adalah penaklukan secara halus yang menghasilkan keputusan kelas (yang sebenarnya ditindas) lewat kekuatan ideologis seperti pendidikan dan media massa.
Hegemoni merupakan terminology penting yang digunakan Gramsci (1971), yang diartikan sebagai cara yang kuat atau kehadiran di mana-mana (omnipresence) sesuatu secara penuh. Lebih jauh teori ini menekankan bahwa dalam lapangan sosial ada pertarungan untuk memperebutkan penerimaan publik. Karena pengalaman sosial kelompok subordinat (bisa kelas,gender, ras, umur dan sebagainya) berbeda dengan ideologi dan kebenarannya tersebut agar diterima tanpa perlawanan. Salah satu strategi kunci dalam hegemoni adalah nalar awam (common sense). Jika idea atau gagasan dari kelompok dominan/berkuasa diterima sebagai common sense (jadi tidak didasarkan pada kelas sosial), kemudian ideologi itu diterima, maka hegemoni telah terjadi.
Hegemoni bekerja melalui konsensus daripada upaya penindasan satu kelompok terhadap kelompok lain. Salah satu kekuatan hegemoni adalah bagaimana ia menciptakan cara berpikir atau wacanan tertentu yang dominan, yang dinggap benar, smenetara wacana lain dianggap salah. Ada satu nilai atau consensus yang dianggap memang benar, sehingga ketika ada cara pandang atau wacana lain dianggap tidak benar. Media di sini secara tidak sengaja dapat menjadi alat bagaimana nilai-nilai atau wacana yang dipandang dominan itu disebarkan dan meresap dalam benak khalayak sehingga menjadi konsensus bersama.
Menurut Gramsci, dalam hegemoni, media massa adalah alat yang digunakan elit berkuasa untuk melestarikan kekuasaan, kekayaan dan status mereka dengan mempopulerkan falsafah, kebudayaan dan moralitas mereka sendiri. Ideologi yang di-mediamassa-kan dibenarkan dan diperkuat oleh sebuah sistem keagenan yang saling terkait dan efektif dalam mendistribusikan informasi dan praktek-praktek sosial yang sudah dianggap semestinya, yang merembesi segala aspek realitas sosial dan budaya. Menurut seorang ahli sosial kebangsaan Inggris, Philip Elliot (dalam Lull, 1998:34), dampak media massa yang paling dahsyat adalah cara mereka memengaruhi audiens secara pelan dan halus (subtly) untuk mempersepsi peran sosial dan aktivitas pribadi yang rutin.

Simulacra Baudrillard
            Filosofi Baudrillard terpusat pada dua konsep “hyperreality” dan “simulation”. Terminology ini mengacu pada alam yang tidak nyata dan khayal dalam kebudayaan kontemporer pada zaman komunikasi massa dan konsumsi massa. Baudrillard menggambarkan realitas melalui empat tahap: (1) it (image) is the reflection of the basic reality, (2) it makes and pervert a basic reality, (3) it makes the absence of the basic reality, dan (4) it bears on relation on any reality whatever: it is its own pure simulacrum. Dari keempat tahap itu, tahap kedua adalah yang paling penting bahwa image bahkan bisa mengelabui kita sehingga kita tidak sadar lagi akan ketidakhadirannya. Gambaran dalam media massa dan cyber seperti televisi, internet tidak lagi kita pahami dalam kerangka semiotic signifier dan signified tanda-petanda
            Jarak keduanya lenyap, sehingga yang tinggal hanyalah sebuah pengalaman langsung. Artinya, kita seolah-olah tidak senang menghadapi image atau gambaran tentang “realitas” itu sendiri. Inilah yang disebut Baudrillard dengan istilah immediate, the unsignified atau simulacrum yang berarti tiruan, imitasi, tidak nyata, tidak sesungguhnya.
            Konsep Baudrillard mengenai simulasi adalah tentang penciptaan kenyataan melalui model konseptual atau sesuatu yang berhubungan dengan “mitos” yang tidak dapat dilihat kebenaran dan kenyataannya. Model ini menjadi faktor penentu pandangan kita tentang kenyataan. Segala yang dapat menarik minat manusia – seperti seni, rumah, kebutuhan rumah tangga dan lainya – ditayangkan melalui berbagai media dengan model-model yang ideal, di sinilah batas antara simulasi dan kenyataan menjadi tercampur aduk sehingga menciptakan hyperreality di mana yang nyata dan yang tidak nyata menjadi tidak jelas.
Hiperealitas menciptakan satu kondisi yang di dalamnya kepalsuan berbaur dengan keaslian; masa lalu berbaur masa kini; fakta bersimpang siur dengan rekayasa; tanda melebur dengan realitas; dusta bersenyawa dengan kebenaran. Kategori-kategori kebenaran, kepalsuan, keaslian, isu, realitas seakan-akan tidak berlaku lagi di dalam dunia seperti itu. Baudrillard menerima konsekuensi radikal tentang sesuatu yang dilihatnya merasuk dalam ‘kode’ di masa modern ini. Kode ini jelas terkait dengan komputerisasi dan digitalisasi, kode ini bisa mem-bypass sesuatu yang real dan membuka kesempatan bagi munculnya realitas yang disebut Baudrillard sebagai hyperreality.” (Lechte, 2001, hlm. 352)
Keadaan dari hiperrealitas ini membuat masyarakat modern ini menjadi berlebihan dalam pola mengkonsumsi sesuatu yang tidak jelas esensinya. Kebanyakan dari masyarakat mengkonsumsi bukan karena kebutuhan ekonominya melainkan karena pengaruh model model dari simulasi yang menyebabkan gaya hidup masyarakat menjadi berbeda. Mereka jadi lebih perhatian terhadap gaya hidup dan nilai yang mereka junjung tinggi.

PEMBAHASAN
Studi simulacra dan hiperrealitas dalam film AVATAR berguna dalam pembongkaran peran media massa film sebagai pencipta industri kebudayaan pencerahan yang melakukan penipuan massa melalui proses hegemoni, ideologi dan simulacra sehingga terjadi krisis identitas karakter bangsa.
Avatar adalah film yang menceritakan tentang sebuah satelit sebesar bumi yang dihuni oleh bangsa Na’vi yang peradabanya mulai diusik oleh manusia. Bangsa Na’vi adalah mahluk primitive yang sekilas mirip manusia, hanya saja mereka bertubuh besar, berwarna biru dan memiliki ekor. Avatar merupakan program pembuatan mahluk yang mirip dengan suku Na’vi sehingga memungkinkan Jake untuk bisa berjalan kembali. Saat mempelajari kehidupan bangsa Na’vi, Jake menemukan berbagai macam hal yang menakjubkan baik dari kebudayaan bangsa Na’vi itu sendiri maupun dari keindahan hutan Pandora. “Avatar” menceritakan perang untuk mempertahankan hidup antara kaum Na’vi yang tinggal di hutan, melawan operasi pertambangan kolonial di planet mereka.
Terjebak di antara dua kubu yang bertikai memang tak pernah menyenangkan dan itulah yang dialami Jake Sully (Sam Worthington) saat ia setuju untuk dikirim ke Pandora. Di planet asing yang dihuni berbagai mahluk ini Jake yang semula berharap bisa memulai hidup baru malah terlibat masalah pelik yang mengharuskan memilih pihak. Jake adalah mantan marinir yang mengalami luka parah dalam sebuah pertempuran di bumi. Akibatnya kaki Jake mengalami kelumpuhan total. Ada satu harapan untuk Jake. Jika ia mengikuti program Avatar dan dikirim ke planet Pandora maka ia akan kembali bisa berjalan seperti sedia kala meski konsekuensinya Jake akan menggunakan ‘tubuh baru’. Agar memungkinkan buat manusia untuk hidup di Pandora maka mereka dibuatkan satu tubuh buatan dan pikiran para manusia ini akan ditanamkan ke dalam tubuh yang disebut Avatar ini sehingga Avatar ini seolah-olah adalah tubuh mereka sendiri. Tugas Jake adalah menjadi pemandu bagi beberapa manusia yang menggunakan tubuh Avatar untuk mencari sumber mineral baru untuk kepentingan industri di bumi. Di tengah perjalanan, Jake bertemu Neytiri (Zoe Saldana), bangsa Na’vi penghuni planet Pandora. Seiring berjalannya waktu Jake pun jatuh cinta pada Neytiri. Berawal dari cinta inilah Jake lantas menghadapi dilema antara melanjutkan misinya mengeksplorasi Pandora atau membela kaum Na'vi melindungi Pandora. Secara keseluruhan film ini amat menarik.Kalaupun ada kekurangan yang terasa sebenarnya adalah ide cerita yang terasa generik. Kalau mau jujur, ide dasar cerita ini tak jauh beda dengan beberapa film yang mencoba mengungkap masalah yang sama seperti film The Last Samurai dan Dances With Wolves.

Dunia Hiperrealitas
Film adalah salah satu bentuk media massa yang membawa nilai, budaya, dan ideologi penciptanya. Konsep penanaman nilai-nilai budaya dilakukan melalui pemilihan dan ide, cerita, penokohan, special effect, hingga distribusi produk film yang dihasilkan. Avatar sebuah film yang mengusung nilai dan ideologi di mana film itu dibuat. Sukses film Avatar ditandai dengan suksesnya film tersebut mendulang ‘fulus’ di berbagai negara termasuk di Indonesia.
Berdasarkan catatan CNN, sebuah situs penggemar film Avatar di Amerika Utara menerima 1.000 posting terkait depresi penonton. “Setelah menonton Avatar, saya benar-benar depresi saat bangun di dunia nyata, saya berbagi cerita dengan orang lain untuk mengurangi depresi ini” “saya ingin menjadi bagian suku Na’vi” (Harian Sindo, Rabu 13 januari 2010)
Kehidupan saat ini ditandai dengan simulasi. Proses ini mengarah kepada penciptaan simulacra atau “reproduksi objek atau peristiwa”. Dengan kaburnya perbedaan antara tanda dan realitas, maka semakin sukar mengenali yang tulen dari barang tiruan. Masyarakat saat ini sudah tidak lagi didominasi oleh produksi tetapi lebih didominasi oleh “media, model sibernetika dan sistem pengemudian, komputer, pemrosesan informasi, industri hiburan dan pengetahuan, dan lainya”. Kita menjadi budak simulasi,” yang membentuk sistem lingkaran yang tak berujung pangkal. Cerita Avatar yang disuguhkan mengharubiru, menggembirakan dan menghibur tidak jauh berbeda dengan sinetron atau drama sejenisnya dapat melarut pula perasaan dari pemirsa.
Film Avatar yang disajikan memainkan peranan yang cukup dominan untuk  mengharu biru penonton dengan special effect yang disajikan. Bila dikaitkan dengan konsep Baudillard inilah lukisan dari kehidupan saat ini yaitu terbentuknya hiperrealitas (realitas semu). Tidak ada lagi realitas yang ada hanyalah hiperrealitas. Dampak yang dihasilkan dari hiperrealitas adalah adanya kepercayaan masyarakat terhadap kenyataan yang sebenarnya bukan kenyataan. Pembodohan atas realitas ini dapat menghasilkan pola budaya yang mudah meniru (imitasi) apa yang dilihatnya sebagai sebuah kenyataan yang direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, terbentuk pula pola pikir yang serba instan, membentuk manusia yang segala sesuatunya ingin cepat tersedia.
Adanya realitas yang tersajikan dengan citra yang menghibur itu dapat menumbuhkan semangat dalam masyarakat untuk berbuat demi kemanusiaan, namun komoditas atas kepentingan keuntungan yang tersaji dari bingkai realitas dalam media mengalahkan nilai, makna yang bermanfaat bagi masyarakat. Massa digiring pada suatu pemahaman, adanya identifikasi yang sama dan penyeragaman nilai.
Mengacu pada konsep Luhan dan Gramsci tentang ideologi, hegemoni, dan dominasi, media massa adalah alat yang digunakan elit berkuasa untuk melestarikan kekuasaan, kekayaan, dan status mereka dengan mempopulerkan falsafah, kebudayaan dan moralitas mereka sendiri.
Dalam hal ini senada dengan itu, proses pembuat film juga mengacu pada hal yang sama, adanya unsure  ideologi, hegemoni, dan dominasi dari para pemilik dan pengelola industri media dalam mengontrol dan menguasai kelompok sosial lainnya serta melakukan ‘pemaksaan secara halus budaya mereka terhadap kelompok sosial lain dengan memproduksi dan memreproduksi isi, dan nada dari ide-ide yang menguntungkan mereka dengan jauh lebih mudah melalui cara-cara persuasi dengan dalih memenuhi kebutuhan merka dengan konsep-konsep berdasar pertimbangan kelompok sosial yang dominan.
Secara perlahan tetapi pasti, para penonton terlena dengan segala kemudahan hidup, budaya konsumsi yang serba instan membuat mereka lupa bahwa hidup yang mereka hadapi mulai kabur dan tenggelam dalam realitas semu. Film adalah hasil rekayasa manusia, produksi film hasil karya yang mengharuskan padat modal, padat teknologi, dan sumber daya manusia yang terlatih. Modal besar diperlukan untuk membuat sebuah film yang berdurasi puluhan menit tersebut. Ketika berbicara tentang film dan teknologi canggihnya, maka kita akan berkiblat ke negara pemilik teknologi tersebut, AS dan negara daratan Eropa.
Media termasuk juga film Avatar seakan menjadi alat industri yang memberi pencerahan kepada massa dengan memberikan ragam informasi dan media yang disodorkan kepada mereka. Perlu pula diwaspadai bahwa pemilik tetap menjadi penentu isi dari media tersebut. Jelas sekali isi sudah dikonstruksi sesuai dengan ideologi mereka, yaitu ideologi Kapitalis. Rekayasa, penyeragaman acara menjadi hal yang dapat kita rasakan dalam sistem yang seperti ini. Alih- alih memberi pencerahan, media menjadi alat penipuan massa dan menjadi pelaku pembodohan yang massif terhadap masyarakat. Masyarakat dilenakan dengan sajian media yang dangkal dan artifisial bahkan mungkin mustahil ada dalam realitas sesungguhnya.
Avatar, salah satu contoh film yang mengusung nilai-nilai kapitalis. Penonton dilenakan dengan imaji yang membius dan ide cerita yang fantastis. Yang penting penonton puas dengan sajian film tersebut, tanpa harus mengerutkan kening dan berpayah-payah memikirkan isi film tersebut.
Di Indonesia saat ini film didominasi oleh film-film barat termasuk penayangan Avatar secara serentak di tanah air. Hal ini tidak lepas dari sistem kapitalis yang melanda industri perfilman, ketika Indonesia memasuki arus global. Ada standar-standar khusus yang diberlakukan dalam sistem tersebut. semisal standar gedungnya, ide ceritanya, sistem manajemennya.
Dalam kondisi yang seperti inilah, mudah bagi bangsa lain untuk melakukan penetrasi hegemoni budaya dan ideologi kepada negara Indonesia. Hal ini ditengarai salah satunya dengan dikuasainya sistem perfilman Indonesia oleh negara pemasok film barat. Mudah bagi mereka untuk mendikte sesuai dengan kehendak dan selera mereka, selera ideologi kapitalis global.
Krisis identitas karakter bangsa suatu yang bukan mustahil terjadi saat ini di Indonesia. Adakah budaya Indonesia yang dimiliki Indonesia saat ini?  Nilai dan karakter suatu bangsa akan tercermin dari budaya yang mereka usung dalam berbangsa dan bernegara. Indonesia sedang mengalami dilema dan krisis nilai saat ini.
Film sebagai bentuk penyedia hiburan memang ampuh untuk menghilangkan segala kepenatan hidup, namun film pun dapat menjadi sebuah penanda terjadinya krisis nilai suatu bangsa.

Kesimpulan
Mengacu pada konsep McLuhan dan Antonio Gramsci tentang ideologi, hegemoni dan dominasi, media massa adalah alat yang digunakan elit berkuasa untuk melestarikan kekuasaan, kekayaan dan status mereka dengan mempopulerkan falsafah, kebudayaan dan moralitas mereka sendiri. Ideologi merupakan sistem pengetahuan yang berkaitan dengan pencapaian tujuan dan kepentingan tertentu dan menggunakan symbol untuk hadir di tengah tengah masyarakat, Kesadaran adalah melihat bagaimana karakteristik media menentukan persepsi khalayak. Maka di sini proses kesadaran berkaitan dengan jenis medium. Pengaruh media yang sangat kuat sehingga siapapun yang mengendalikan media berarti memiliki kemampuan dalam mempengaruhi kesadaran. Hegemoni berkaitan dengan kemampuan pengetahuan dalam rangka melakukan penundukan secara halus, di mana pihak yang ditundukkan menerima hal itu seolah olah sebagai sesuatu yang wajar. Terdapat banyak fenomena hegemoni dalam keseharian sebagai akibat proses komunikasi, hegemoni sangat berkaitan dengan aspek ideologi dan kesadaran.
Dalam hal ini senada dengan itu, proses pembuatan film juga mengacu pada hal yang sama, adanya unsur ideologi, hegemoni dan dominasi dari para pemilik dan pengelola industri media dalam mengontrol dan menguasai kelompok sosial lain. Caranya dengan memproduksi dan mereproduksi isi, nada dari ide ide yang menguntungkan mereka dengan jauh lebih mudah melalui cara-cara persuasui dengan dalih yang memenuhi kebutuhan merka dengan konsep-konsep berdasar pertimbangan kelompok sosial yang dominan.
Globalisasi saat ini memungkinkan industri media massa menciptakan kebudayaan massa dan menyampaikan pesan kepada massa dengan massifnya, dimana kebudayaan massa umumnya hanya mengakomodir selera rendah masyarakat massa. Ideologi kapitalis melakukan pelanggengan kekuasaaan terhadap massa dengan penyeragaman dan homogenitas acara (identik). Akhirnya kebudayaan massa hanya mengakomodasi selera rendah masyarakat massa.
Film sebagai bagian dari media massa dan produk budaya massa, memiliki pengaruh yang kuat dalam melahirkan masyarakat yang pasif. Lewat sajian film Avatar, terjadinya hegemoni, dominasi dan ideologi kapitalis dapat terlihat dari imaji yang sengaja dilakukan produsen untuk mengiring massa pada satu produk budaya massa. Isi media menyajikan simulacra, kebutuhan semu dan menciptakan dunia semu (hiperrealitas). Film Avatar menawarkan sesuatu yang sebetulnya tidak ada dalam dunia nyata namun disukai oleh penonton. Hegemoni terjadi atas kuasa dominasi pemilik modal terhadap penonton dengan mengebiri kebebasan berimajinasi. Kontrol sudah dilakukan oleh pihak produsen dengan pemilihan setting, cerita, special effect hingga jalur pendistribusian film tersebut. Penonton dan penikmat film dilenakan dengan segala pengaturan yang dilakukan oleh para pemodal industri media.
Dalam situasi yang seperti itu krisis identitas karakter tercipta karena masyarakat menerima ideologi, nilai dan budaya yang disuguhkan media massa (budaya barat) dan tidak memahami lagi, realitas media dan realitas sesungguhnya bahwa sebenarnya  industri media massa menjadi kendaraan bagi budaya pencerahan semu yang menipu  massa yang menyebabkan krisis identitas karakter bangsa.

DAFTAR PUSTAKA
Adorno, Theodor dan Max Horkheimer (1944). The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception (versi daring bisa   diakses di: http://www.marxists.org/reference/archive/adorno/1944/culture-industry.htm)
Agger, Ben. (1992). Cultural Studies as A Critical Theory. London: Palmer.
---. (1992). Teori Sosial Kritis: Kritik, Penerapan dan Implikasinya. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Artz, Lee dan Yahya R. Kamalipour. (Tim editor). (2003). The Globalization of Corporate Media Hegemony. Albany: State University of New York Press.
Baudrillard, Jean dan Marie Maclean. (1985). “The Masses: The Implossion of the Social in the Media” dalam jurnal New Literary History Vol. 16, No. 3, On Writing Histories of Literature (Spring, 1985), hlm. 577-589.
Baudrillard, Jean. (1988). “Simulacra and Simulations,” dalam Mark Poster (editor). Jean Baudrillard, Selected Writtings, Cambridge: Polity Press
Gitlin, Todd. (1979). “Prime time ideologi: The Hegemonic process in Television”, dalam Horace Newcomb (ed). (1994). Television: The Critical View. Fifth edition. New York: Oxford University Press.             
Ibrahim, Idi Subandy. (1997). Lifestyle Ectasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komunitas Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra.
Lechte, John. (2001). 50 Filsuf Kontemporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas. Yogyakarta: Kanisius.
Lull, James. (1998). Media Komunikasi Kebudayaan, Suatu Pendekatan Global. Jakarta: Yayasan Obor.
Pye. Lucian W. (1966). Aspects of Political Development. Boston: Little, Brown, and Co.
Ritzer, George. (2006). Mengkonsumsi Kehampaan di Era Globalisasi. Yogyakarta: Universitas Atmajaya.
Sutrisno, Mudji, dkk. (tim editor). (2007). Cultural Studies: Tantangan bagi Teori-Teori Besar Kebudayaan. Depok: Koekoesan.

Non Buku:
Simons, Gary. (2006). Tanpa tahun. “Stimulating Stimulation,” bisa diakses di
                                                                                                                                                                   




 


Monday, May 21, 2012

Galau bikin skripsi?

Apa yang harus dilakukan bila ingin menganalisis sebuah pesan dalam sebuah cover majalah atau sebuah karikatur?. Salah satu jawabnya adalah menggunakan konsep-konsep semiotika. Sayangnya, tak banyak buku semiotika yang bisa menjelaskan secara sistematis dan sederhana dan bisa membimbing mahasiswa tahap demi tahap. Untunglah ada satu buku baru soal semiotika yang disusun secara praktis untuk membantu mahasiswa saat membuat skripsi.

Di susun secara sistematis, buku ini terbagi menjadi  Sembilan Bab yang terdiri dari pendahuluan ,pengenalan sekilas tentang semiotika dan  tanda-tanda,  teori-teori semiotika, sejarah , perkenalan terhadap sejumlah tokoh yang sudah berjasa di bidang Semiotika seperti    Charles Sander Peirce, Ferdinand de Saussure serta tak lupa  Roland Barthes yang terkenal dengan semiotika dua tahapnya dan konsep mitos yang menjadi andalan utamanya. (p.15)

Buku ini dibuat oleh Indiwan Seto Wahyu Wibowo alumnus Ilmu Komunikasi Fisipol UGM  tahun 1992, jurnalis dan instruktur handal dalam dunia tulis menulis yang juga dosen Komunikasi. Yang menarik adalah testimoni dari sang penulis bahwa buku ini dibuat gara-gara kesulitannya saat menulis tesis karena sulitnya mencari referensi terkait metodologi yang digunakan yakni semiotika.

Soal tanda, bahasa dan makna  dalam Bab awal buku ini banyak dibahas, mengingat tanda adalah hal yang sangat penting dalam semiotika. Itu wajar mengingat kata kunci yang banyak disinggung dalam  buku ini adalah  konsep tanda. Bisa dibilang semiotika komunikasi  selalu berupaya menemukan makna di balik sebuah tanda. Jadi bisa disebut, (p.7)
Semiotika merupakan bidang studi tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja. Tanda merupakan sesuatu yang bersifat fisik, bisa hasil dari persepsi indera kita sebagai manusia,  dan tanda merujuk atau mengacu pada sesuatu di luar tanda itu sendiri, dan amat tergantung pada bagaimana penggunanya mengenalnya sehingga disebut tanda.

Buku ini juga dilengkapi dengan kerangka berpikir semiotika dan sistematika penulisan penelitian semiotika yang akan memberi pijakan kuat bagi mahasiswa agar tidak ragu memilih semiotika dan mampu mempertanggungjawabkannya secara ilmiah dengan argument yang kuat sekitar penggunaan paradigma  penelitian yang sesuai, serta tahapan-tahapan yang harus dilalui peneliti bila menggunakan  analisis semiotika. (p.25)
Indiwan juga  menjelaskan bagaimana  struktur penulisan yang khas yang tentu saja berbeda bila dibandingkan dengan  analisis isi kuantitatif yang konvensional. Di awal buku ini bicara banyak soal perbedaan mendasar antara penelitian semiotika dengan penelitian yang menggunakan analisis isi kuantitatif, dan bagaimana menentukan dan ‘ mengukur’  validitas penelitian kualitatif secara umum maupun penelitian semiotika.

Kelebihan  buku ini adalah  si penulis tidak hanya memaparkan teori-teori serta konsep mentah mengenai  semiotika dan alur pikir para penggagasnya tetapi penulis secara khusus menambahkan empat contoh penulisan atau penggarapan  skripsi dan thesis serta penelitian yang menggunakan semiotika sebagai  pisau analisis.

Di antaranya pembahasan  tentang  “ Pembunuhan karakter Presiden Gus Dur di Media Massa” menggunakan  semiotika social  MK Halliday dan Hassan, dan konstruksi Kematian Soeharto yang melihat  fenomena menarik tentang kematian Soeharto mantan presiden Indonesia yang oleh Majalah Tempo digambarkan lewat cover yang sangat controversial karena  mirip dengan  lukisan ‘The Last Supper’ , perjamuan suci Yesus Kristus  sebelum wafat di kayu salib. (p.155)

Kelemahan  dari buku ini adalah kurang banyak membahas bagaimana bila  mahasiswa ingin melakukan penelitian menggunakan semiotika Roland Barthes yang memang membutuhkan kerja ekstra karena terkait dengan analisis social historis terkait tema yang diangkat.

Paling tidak, dengan membaca buku ini, mahasiswa Komunikasi khususnya yang tengah bergulat dalam mengerjakan skripsi bisa dengan mudah dan praktis memahami tahap-tahap apa saja yang harus dilakukan untuk meneliti atau membuat skripsi terkait semiotika. (Cara Pesan buku ini mudah saja, hubungi penulisnya di 082112297660, kemudian kirim alamat pemesan, bayar harga buku Rp 40.000 ditambah ongkos kirim sesuai alamat mengunakan JNE atau Tiki. Kemudian kirim ke rekening Bank Mandiri Cab UMN Gading Serpong an Indiwan seto wahyu wibowo No.rekening : 1640009999998, setelah pembayaran diterima buku kemudian dikirimkan.
( Djaka Elbe www.rumahpintarkomunikasi.blogspot.com)

Tuesday, April 05, 2011

SEMIOTIKA KOMUNIKASI : BUKU BARU UNTUK MAHASISWA KOMUNIKASI

buku bagus bagi mahasiswa yang sedang menulis skripsi, mengunakan penelitian kualitatif khususnya yang menggunakan semiotika sebagai pisau kajiannya.semiotika adalah sebuah metodelogi membongkar ada apa di balik sebuah tanda ( baik berupa ikon atau simbol dan indeks). Dalam buku Semiotika Komunikasi (indiwan,2011) ini disinggung sejumah tahap saat mencoba menganalisis tanda dan makna menggunakan Semiotika. Tahap awal adalah : memilih objek kajian yang akan diteliti, kemudian mulai mengkatagorikan sign tersebut berdasarkan jenisnya apakah tanda tersebut adalah tanda yang bersifat verbal (berisi kata-kata,headline,tagline,body copy dan sebagainya) atau tanda yang bersifat nonverbal apakah berupa image/ikon, apakah body language, gerak-gerik, komunikasi non verbal, tata letak/design atau komposisi atau bersifat simbolik seperti rambu-rambu,warna,logo dan sebagainya. Baru kemudian dianalisis menggunakan model semiotika yang hendak dipakai (semotika Charles Sander Peirce atau Roland Barthes) setelah dianalisis kemudian dinterpretasi dan dibenturkan dengan triangulasi lewat wawancara dengan praktisi atau pihak terkait. Tertarik ? Bisa cari di Gramedia setempat atau langsung pesan ke RUMAH PINTAR KOMUNIKASI (0215513947)....

Monday, October 18, 2010

MEDIA RELATIONS

Teknik Penulisan Humas (Public Relations Writing) adalah keterampilan menulis (writing skill) khas Humas/PR dalam menghasilkan naskah-naskah yang diperlukan untuk kepentingan pencitraan positif dan popularitas perusahaan/organisasi. Tipe-tipe panulisan atau naskah PR dapat dibagi menjadi dua bagian: 1. Berkaitan dengan Media Relations/Press Relations, seperti naskah press release (siaran pers), advertorial, dan press conference (press kit/media kit). 2. Berkaitan dengan media promosi, informasi, dan komunikasi perusahaan/organisasi, seperti naskah untuk dipublikasikan di newsletter, in house magazine/Company Magazines, naskah laporan tahunan (annual report), company profile, leaflet, booklet, brosur, dan sebagainya. Untuk menghasilkan naskah yang baik (good writing), Humas/PR harus memiliki keterampilan jurnalistik layaknya wartawan, seperti pemahaman tentang nilai berita (news values), bahasa jurnalistik (language of mass communications), kode etik jurnalistik, dan sebagainya. Untuk kepentingan publikasi yang luas, Humas/PR membutuhkan peran media. Karena itu, diperlukan sebuah hubungan yang baik dengan kalangan pers/media massa (Press/Media Relations). Agar hubungan itu tercipta dengan baik, Humas perlu mengenali dunia pers dengan baik pula, seperti karakteristik wartawan, format media, cara kerja wartawan/media, dan sebagainya. Siaran Pers Siaran Pers (Press Release, biasa disebut rilis saja) adalah naskah berita (data atau informasi tentang sebuah kegiatan –pra ataupun pasca) yang disampaikan kepada wartawan atau kantor redaksi media untuk dipublikasikan di media tersebut. Dengan demikian, menulis siaran pers pada dasarnya sama dengan menulis berita seperti dilakukan para wartawan. Oleh karenanya, karakteristik dan struktur penulisan siaran pers sama dengan menulis berita. Karakteristik siaran pers adalah memiliki “nilai berita” (news values), yakni aktual, faktual, penting, dan menarik. Struktur penulisannya pun sama dengan dengan penulisan berita, yakni terdiri dari head (Judul), dateline (baris tanggal), lead (teras berita), dan news body (tubuh atau isi berita). Berita sendiri artinya adalah laporan peristiwa atau peristiwa yang dilaporkan oleh media massa. Kiat menulis siaran pers: 1. Tulis dengan gaya penulisan berita. 2. Jangan terlalu panjang – cukup satu lembar. 3. Langsung ke masalahnya dengan segera. 4. Penuhi unsur berita 5W+1H. 5. Berikan lebih dari satu nomor kontak –nomor telpon kantor, kontak pribadi, HP, e-mail, dan fax. 6. Jika memungkinkan, buatlah usulan mengenai orang-orang yang dapat diwawancara. 7. Cek/konfirmasi siaran pers yang sudah dikirimkan melaui fax, surat, atau e-mail. 8. Jika perlu, seratakan ilustrasi foto, tabel, atau grafik atau bahan pendukung lainnya –makalah, naskah pidato, susunan acara, dsb. 9. Tuliskan pada kertas berkop-surat sehingga benar-benar resmi. 10. Tandatangani oleh pejabat paling berwenang, misalnya manajer humas, ketua panitia, dan/atau ketua lembaga/perusahaan. 11. Jika bersifat individu, misalnya artis, pakar, pejabat, ataupun warga biasa, sertakan fotokopi identitas. Surat Pembaca Surat Pembaca (letter to the editor) mirip siaran pers, terutama dalam hal teknis penulisan dan pengiriman. Yang membedakan adalah dalam hal isi dan tujuannya. Isi dan tujuan surat pembaca biasanya merupakan tanggapan, sanggahan, klarifikasi, atau penggunaan Hak Jawab dan Hak Koreksi atas informasi yang dinilai salah dan merugikan. Surat pembaca berupa tanggapan, biasanya diawali dengan mengutip berita atau surat pembaca yang sebelumnya sudah dimuat, sehingga pembaca dapat mengetahui latar belakang masalah yang diklarifikasi. ( dari AS.Romli/internet sebelah)

Wednesday, June 09, 2010

Thursday, June 03, 2010

BERITA TAK PERNAH BISA NETRAL

Sebuah berita yang muncul di sebuah surat kabar seringkali diandaikan sebagai sesuatu kebenaran yang factual karena harus berdasarkan fakta , Padahal tidak semua berita itu memang benar-benar ‘netral’. Isi media banyak dipengaruhi oleh berbagai hal, diantaranya ‘ideologi’ si wartawan, pandangan politik organisasi media, kepentingan pemegang saham atau pemilik media dan system politik Negara. Sulit sekali menemukan sebuah teks berita benar-benar ‘netral’ dan tidak punya ‘bias’ atau kecenderungan berpihak pada kepentingan-kepentingan tertentu di luar teks. Bahkan kaum penganut aliran media kritis melihat bahwa adakalanya media massa merupakan cerminan dari kekuatan-kekuatan besar yang tengah bertarung, media sering dijadikan alat-alat bagi kekuasaan entah mayoritas atau minoritas untuk menciptakan public opini yang sesuai dengan kepentingan tertentu. Kalau anda beranggapan bahwa semua berita adalah semua kebenaran, mungkin anda terlalu yakin terhadap ‘fungsi & peranan’ ideal sebuah media massa yang punya fungsi mendidik, mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjunjung tinggi etika professionalism. Tapi dalam banyak hal, dalam banyak kasus, Terkadang soal kebenaran isi media massa masing sangat ‘debatable’. Masih sangat mungkin diperdebatkan kebenarannya. Sejumlah ahli Komunikasi seperti Gans (1979) dan Gitlin ( 1980) mengelompokkan sejumlah pendekatan terhadap isi media. Di antaranya adalah: 1. Isi merupakan refleksi dari kenyataan sosial dengan sedikit bahkan dengan tidak adanya distorsi. Ini disebut juga sebagai pendekatan ‘cermin’ (the mirror approach) yang mengasumsikan bahwa apa yang dihasilkan oleh media ( isi media) adalah cerminan kenyataan atau realitas sosial yang ada di tengah masyarakatnya. Ini bisa diartikan bahwa untuk melihat apa yang tengah terjadi dan sedang ‘in’ di tengah masyarakat, lihat saja apa yang disiarkan di televisi, apa yang tengah diramaikan dalam debat-debat di radio atau tercetak dalam iklan serta berita surat kabar. 2. Isi media dipengaruhi oleh pengalaman dan wawasan sosial para pekerja media dan sikap-sikap mereka. 3. Isi media sangat dipengaruhi oleh kebiasaan wartawan dalam menulis berita atau cara kerja ‘style book’ organisasi media. Istilah yang umum dalam kajian Komunikasi adalah ‘media routines’. Pendekatan organizational routines berargumen bahwa isi media dipengaruhi oleh cara-cara bagaimana pekerja media dan perusahaan media mengorganisasikan pekerjaan mereka. Sebagai contoh, gaya penulisan Kompas tentu saja berbeda dengan gaya penulisan Rakyat Merdeka atau Lampu Merah. 4. Isi media dipengaruhi oleh institusi sosial yang lain dan kekuatan-kekuatan di luar media massa. Pendekatan ini melihat bahwa media massa sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal atau faktor-faktor lain di luar organisasi media seperti kekuatan ekonomi & politik, serta pengaruh audiens. Pendekatan market misalnya, adalah upaya komunikator yang berupaya menyesuaikan isi medianya dengan apa yang dibutuhkan (sesuai kondisi pasar) oleh audiens yang jadi pelanggan, pembaca atau pemirsanya. 5. Isi media sangat dipengaruhi oleh ideologi yang dianut atau menguasai masyarakat di sekitar media tersebut berada. Misalnya, media massa yang hidup di tengah Negara yang otoriter dan sangat ketat dalam pengawasan media akan berbeda dalam menyajikan isi berita atau penampilannya. Ini terlihat di era Orde baru, yang sangat menjunjung tinggi kekuasaan Negara dan militer membuat sejumlah media massa berhati-hati dalam menulis berita-berita yang terkait dengan ‘Cendana’ , ABRI dan penguasa lainnya. Ketika Orde Baru runtuh dan diganti dengan zaman Reformasi yang hingga kini tak jelas juntrungannya, media massa Begitu bebasnya menyuarakan apa saja hingga akhirnya tak ada lagi sesuatu yang dianggap tabu dan terlarang untuk disuarakan.

Wednesday, May 19, 2010

SANG PEMIMPI

DUALITAS AGEN VS STRUKTUR

Giddens melihat ada dua pendekatan yang kontras bertentangan, dalam memandang realitas sosial. Pertama, pendekatan yang terlalu menekankan pada dominasi struktur dan kekuatan sosial (seperti, fungsionalisme Parsonian dan strukturalisme, yang cenderung ke obyektivisme). Kedua, adalah pendekatan yang terlalu menekankan pada individu (seperti, tradisi hermeneutik, yang cenderung ke subyektivisme). Menghadapi dua pendekatan yang kontras, Anthony Giddens tidak memilih salah satu, tetapi merangkum keduanya lewat teori strukturasi. Giddens menyatakan, kehidupan sosial adalah lebih dari sekadar tindakan-tindakan individual. Di sisi yang lain kehidupan sosial itu juga tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan-kekuatan sosial. Wajar saja maka agency dan struktur sosial berhubungan satu sama lain. Tindakan-tindakan repetisi dari agen-agen individuallah yang mereproduksi struktur tersebut. Tindakan sehari-hari seseorang memperkuat dan mereproduksi seperangkat ekspektasi. Perangkat ekspektasi orang-orang lainlah yang membentuk apa yang oleh sosiolog disebut sebagai “kekuatan sosial” dan “struktur sosial.” Hal ini berarti, terdapat struktur sosial –seperti, tradisi, institusi, aturan moral—serta cara-cara mapan untuk melakukan sesuatu. Namun, ini juga berarti bahwa semua struktur itu bisa diubah, ketika orang mulai mengabaikan, menggantikan, atau mereproduksinya secara berbeda. Dalam pandangan Giddens, terdapat sifat dualitas pada struktur. Yakni, struktur sebagai medium, dan sekaligus sebagai hasil (outcome) dari tindakan-tindakan agen yang diorganisasikan secara berulang (recursively). Maka properti-properti struktural dari suatu sistem sosial sebenarnya tidak berada di luar tindakan, namun sangat terkait dalam produksi dan reproduksi tindakan-tindakan tersebut. Struktur dan agency (dengan tindakan-tindakannya) tidak bisa dipahami secara terpisah. Pada tingkatan dasar, misalnya, orang menciptakan masyarakat, namun pada saat yang sama orang juga dikungkung dan dibatasi (constrained) oleh masyarakat. Struktur diciptakan, dipertahankan, dan diubah melalui tindakan-tindakan agen. Sedangkan tindakan-tindakan itu sendiri diberi bentuk yang bermakna (meaningful form) hanya melalui kerangka struktur. Jalur kausalitas ini berlangsung ke dua arah timbal-balik, sehingga tidak memungkinkan bagi kita untuk menentukan apa yang mengubah apa. Struktur dengan demikian memiliki sifat membatasi (constraining) sekaligus membuka kemungkinan (enabling) bagi tindakan agen. Dalam teori strukturasi, si agen atau aktor memiliki tiga tingkatan kesadaran: 1.Kesadaran diskursif (discursive consciousness). Yaitu, apa yang mampu dikatakan atau diberi ekspresi verbal oleh para aktor, tentang kondisi-kondisi sosial, khususnya tentang kondisi-kondisi dari tindakannya sendiri. Kesadaran diskursif adalah suatu kemawasdirian (awareness) yang memiliki bentuk diskursif. 2. Kesadaran praktis (practical consciousness). Yaitu, apa yang aktor ketahui (percayai) tentang kondisi-kondisi sosial, khususnya kondisi-kondisi dari tindakannya sendiri. Namun hal itu tidak bisa diekspresikan si aktor secara diskursif. Bedanya dengan kasus ketidaksadaran (unsconscious) adalah, tidak ada tabir represi yang menutupi kesadaran praktis. 3. Motif atau kognisi tak sadar (unconscious motives/cognition). Motif lebih merujuk ke potensial bagi tindakan, ketimbang cara (mode) tindakan itu dilakukan oleh si agen. Motif hanya memiliki kaitan langsung dengan tindakan dalam situasi yang tidak biasa, yang menyimpang dari rutinitas. Sebagian besar dari tindakan-tindakan agen sehari-hari tidaklah secara langsung dilandaskan pada motivasi tertentu. Pemahaman tentang kesadaran praktis ini sangat fundamental bagi teori strukturasi. Struktur dibentuk oleh kesadaran praktis, berupa tindakan berulang-ulang, yang tidak memerlukan proses refleksif (perenungan), dan tidak ada “pengambilan jarak” oleh si agen terhadap struktur. Ketika makin banyak agen mengadopsi cara-cara mapan atau rutinitas keseharian dalam melakukan sesuatu, mereka sebenarnya telah memperkuat tatanan struktur (order). Perubahan struktur bisa terjadi jika semakin banyak aktor/agen yang mengadopsi kesadaran diskursif. Yaitu, manakala si agen “mengambil jarak” dari struktur, dan melakukan sesuatu tindakan dengan mencari makna/nilai dari tindakannya tersebut. Hasilnya bisa berupa tindakan yang menyimpang dari rutinitas atau kemapanan, dan praktis telah mengubah struktur tersebut. Perubahan juga bisa terjadi karena konsekuensi dari tindakan, yang hasilnya sebenarnya tidak diniatkan sebelumnya (unintended consequences). Unintended consequences mungkin secara sistematis menjadi umpan balik, ke arah kondisi-kondisi yang tidak diketahui bagi munculnya tindakan-tindakan lain lebih jauh. Dalam kasus unintended consequences ini, bukan adanya atau tidak-adanya niat (intensi) yang penting. Namun, adanya kompetensi atau kapabilitas di pihak si agen untuk melakukan perubahan. Jadi, hal ini sebenarnya berkaitan dengan kuasa atau power. Giddens menekankan pentingnya power, yang merupakan sarana mencapai tujuan, dan karenanya terlibat secara langsung dalam tindakan-tindakan setiap orang. Power adalah kapasitas transformatif seseorang untuk mengubah dunia sosial dan material. BAHAN BACAAN: Giddens, A. 1984. The Constitution of Society-Teori Struktural untuk Analisis Sosial. Pasuruan: Pedati.

DUA SEJOLI

TEORI STRUKTURASI GIDDENS

Teori strukturasi merupakan teori umum dari aksi sosial. Teori ini menyatakan bahwa manusia adalah proses mengambilkan dan meniru beragam sistem sosial. Dengan kata lain, tindakan manusia adalah sebuah proses memproduksi dan mereproduksi sistem-sistem sosial yang beraneka ragam. Interaksi antar individu dapat menciptakan struktur yang memiliki range dari masyarakat yang lebih besar dan institusi budaya yang lebih kecil yang masuk dalam hubungan individu itu sendiri. Individu yang menjadi komunikator bertindak secara strategis berdasarkan pada peraturan untuk meraih tujuan mereka dan tanpa sadar menciptakan struktur baru yang mempengaruhi aksi selanjutnya. Hal ini karena pada saat individu itu bertindak dalam rangka memenuhi kebutuhannya, tindakan tersebut menghasilkan konsekuensi yang tidak diinginkan (unintended consequences) yang memapankan suatu struktur sosial dan mempengaruhi tindakan individu itu selanjutnya. Struktur dinyatakan seperti hubungan pengharapan, kelompok peran dan norma-norma, jaringan komunikasi dan institusi sosial dimana keduanya berpengaruh dan dipengaruhi oleh aksi sosial. Struktur menfasilitasi individu dengan aturan yang membimbing tindakan meraka. Akan tetapi, tindakan mereka juga bertujuan untuk menciptakan aturan-aturan baru dan mereproduksi yang lama. Manusia menurut teori ini yaitu agen pelaku bertujuan yang memiliki alasan-alasan atas aktivitas-aktivitasnya dan mampu menguraikan alasan itu secara berulang-ulang. Aktivitas-aktivitas sosial manusia ini bersifat rekursif dengan tujuan agar aktivitas-aktivitas sosial itu tidak dilaksanakan oleh pelaku-pelaku sosial tetapi diciptakan untuk mengekspresikan dirinya sebagai aktor/pelaku secara terus menerus dengan mendayagunakan seluruh sumberdaya yang dimilikinya. Pada dan melalui akivitas-aktivitasnya, agen-agen mereproduksi kondisi-kondisi yang memungkinkan dilakukannya aktivitas-aktivitas itu. Tindakan manusia diibaratkan sebagai suatu arus perilaku yang terus menerus seperti kognisi. Strukturasi mengandung tiga dimensi, yaitu sebagai berikut: Pemahaman (interpretation / understanding), yaitu menyatakan cara agen memahami sesuatu. Moralitas atau arahan yang tepat, yaitu menyatakan cara bagaimana seharusnya sesuatu itu dilakukan. Kekuasaan dalam bertindak, yaitu menyatakan cara agen mencapai suatu keinginan. Tiga dimensi strukturasi ini mempengaruhi tidakan agen. Tindakan agen diperkuat oleh struktur pemahaman, moralitas, dan kekuasaan. Dalam hal ini agen menggunakan aturan-aturan untuk memperkuat tindakannya. Dalam satu kelompok yang telah terbentuk strukturnya, masing-masing individu saling membicarakan satu topik tertentu. Dalam strukturasi, hal ini tidaklah direncanakan dan merupakan konsekuensi yang tidak diharapkan dari perilaku anggota-anggota kelompok. Norma atau aturan yang ada diinterpretasi oleh tiap individu dan menjadi arahan tingkah laku mereka. Kekuatan yang mereka miliki memungkinkan mereka untuk mencapai tujuan dan mempengaruhi tindakan orang lain. Dalam prakteknya, tindakan seseorang dapat dipengaruhi dan mempengaruhi beberapa struktur yang berbeda dalam waktu yang sama. Pertemuan lebih dari satu struktur ini kemungkinan akan menimbulkan: Mediasi, yaitu struktur yang satu menjadi perantara munculnya struktur yang lain. Dapat dikatakan produksi dari suatu struktur dapat membentuk struktur baru atau melengkapi struktur yang sudah ada. Kontradiksi, yaitu struktur yang satu mengatasi atau menghapus struktur yang lama. Hal ini disebabkan adanya pertentangan yang memicu konflik antar struktur sehingga menghasilkan perubahan struktur yang berguna untuk mengatasi munculnya konflik yang berkepanjangan ataupun menghapus struktur yang sudah tidak relevan. DAFTAR PUSTAKA Giddens, A. 1984. The Constitution of Society-Teori Struktural untuk Analisis Sosial. Pasuruan: Pedati. Subuki, Makyun. 2006. Komunikasi dalam Interaksionisme Simbolis, Strukturasi, dan Konvergensi. (online), (http://tulisanmakyun.blogspot.com/2008/02/teori-komunikasi 29.html, diakses 01 Maret 2008)

Tuesday, May 18, 2010

WAKTU JADI WARTAWAN BARU.....

GENDER DAN KOMUNIKASI

Robin Lakoff (dalam Griffin, 2003) mencoba mengklasifikasikan keberaturan pembicaraan perempuan, dan membedakan antara woman talk dari man talk. Ia mengklaim bahwa percakapan perempuan mempunyai karakter sebagai berikut: a. Ditandai apologis. b. Pernyataan tidak langsung. c. Pertanyaan yang minta persetujuan d. Mengkualifikasikan. e. Perintah yang sopan. f. Menggunakan istilah atau kata-kata yang penuh warna. g. Cenderung menghindari bahasa vulgar. h. Sedikit berbicara untuk hal-hal yang penting, banyak mendengarkan. Sementara itu, penelitian Griffin (2003), yang berdasarkan pada refleksi personal, menemukan tiga pola perbedaan antara perempuan dan laki-laki sebagai berikut: a) ada lebih banyak persamaan antara laki-laki dan perempuan dari pada perbedaannya. b) ada variabilitas yang besar berkenaan gaya komunikasi antara laki dan perempuan. Feminis vs maskulinitas. c) sex adalah fakta, gender sebagai gagasan. Dalam pembahasan mengenai gender dan komunikasi, Griffin menyadur tiga buah pemikiran sebagai berikut: Genderlect Styles (dari Deborah Tannen); Standpoint Theory (dari Sandra Harding dan Julia Wood); dan Muted Group Theory (dari Cheris Kramarae). 1. Genderlect Styles (dari Deborah Tannen). Deborah Tannent mendiskripsikan ketidakmengertian (misunderstanding) antara laki-laki dan perempuan berkenaan dengan fakta bahwa fokus pembicaraan perempuan adalah koneksitas, sementara laki-laki pada pelayanan status dan kemandiriannya. Genderlect Styles membicarakan gaya bercakap-cakap- bukan apa yang dikatakan tetapi bagaimana menyatakannya. Tanent meyakini bahwa terdapat gap antara laki-laki dan perempuan, dikarenakan masing-masing berada pada posisi lintas budaya (cross culture), untuk itu perlu mengantisipasi berkenaan dengan gap itu. Kegagalan mengamati perbedaan gaya bercakap dapat membawa masalah yang besar. Perbedaan-perbedaan itu terletak pada: a) Kecenderungan feminis versus maskulin, hal ini harus dipandang sebagai dua dialek yang berbeda: antara superior dan inverior dalam pembicaraan. Komunitas feminis – untuk membangun relationship; menunjukkan responsif. Komunitas maskulin – menyelesaikan tugas; menyatakan diri; mendapatkan kekuasaan. c)Perempuan berhasrat pada koneksi versus laki-laki berhasrat untuk status. Koneksi berhubungan erat dengan kedekatan, status berhubungan erat dengan kekuasaan (power). d)Raport talk versus report talk. Perbedaan budaya linguistik berperan dalam menstruktur kontak verbal antara laki-laki dan perempuan. Raport talk adalah istilah yang digunakan untuk menilai obrolan perempuan yang cenderung terkesan simpatik. Report talk adalah istilah yang digunakan menilai obrolan laki-laki yang cenderung apa adanya, pokoknya sampai. Berkenaan dengan kedua nilai ini, Tanent menemukan temuan-temuan yang terkategorikan sebagai berikut: a. Publik speaking versus private speaking, dalam kategori ini diketemukan bahwa perempuan lebih banyak bicara pada pembicaraan pribadi. Sedangkan laki-laki lebih banyak terlibat pembicaraan publik, laki-laki menggunakan pembicaraan sebagai pernyataan fungsi perintah; menyampaikan informasi; meminta persetujuan. b. Telling story, cerita-cerita menggambarkan harapan-harapan, kebutuhan-kebutuhan, dan nilai-nilai si pencerita. Pada kategori ini laki-laki lebih banyak bercerita dibanding perempuan-khususnya tentang guyonan. Cerita guyonan merupakan suatu cara maskulin menegoisasikan status. c. Listening, perempuan cenderung menjaga pandangan, sering manggut, berguman sebagai penanda ia mendengarkan dan menyatakan kebersamaannya. Laki-laki dalam hal mendengarkan berusaha mengaburkan kesan itu- sebagai upaya menjaga statusnya. d. Asking questions, ketika ingin bicara untuk menyela pembicara, perempuan terlebih dahulu mengungkapkan persetujuan. Tanent menyebutnya sebagai kooperatif-sebuah tanda raport simpatik daripada kompetitif. Pada laki-laki, interupsi dipandang oleh Tanent sebagai power-kekuasaan untuk mengendalikan pembicaraan. Dengan kata lain, pertanyaan dipakai oleh perempuan untuk memantapkan hubungan, juga untuk memperhalus ketidaksetujuan dengan pembicara, sedangkan laki-laki memakai kesempatan bertanya sebagai upaya untuk menjadikan pembicara jadi lemah. e. Conflict, perempuan memandang konflik sebagai ancaman dan perlu dihindari. Laki-laki biasanya memulai konflik namun kurang suka memeliharanya. 2. Standpoint Theory (dari Sandra Harding dan Julia Wood). Sandra harding dan Julia Wood sepakat bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai perspektif terpisah, dan mereka tidak memandangnya sebagai sesuatu yang setara. Lokasi-lokasi yang berbeda dalam hirarkhi sosial mempengaruhi apa yang dilihat. Mereka beranggapan bahwa perempuan dan minoritas yang lainnya mempersepsi dunia secara berbeda daripada kelompok yang berkuasa. Standpoint merupakan tempat dari mana melihat pemandangan dunia, apapun sudut pandangnya. Sinonim dari istilah ini adalah perspektif; view point, out look; dsb. Dasar filosopi teori ini adalah perjuangan klas- seperti filsafati kaum proletar karya Karl Marx dan Friederich Engels. Sandra harding dan Julia Wood menganjurkan harus ada perjuangan terhadap diskriminasi gender. Mereka tidak mencirikan perbedaan gender pada insting atau biologis atau intuisi, tetapi perbedaan itu sebagai hasil harapan-harapan budaya dan perlakuan kelompok dalam hal menerima kelompok yang lain. Budaya tidak dialami secara identik, budaya adalah aturan hirarkhi sehingga kelompok yang punya posisi cenderung menawarkan kekuasaan, kesempatan pada anggota-anggotanya. Dalam hal ini teori ini menyatakan bahwa perempuan terposisikan pada hirarkhi yang rendah dibanding posisi laki-laki. Gender adalah sistem makna, sudut pandang melalui posisi dimana kebanyakan laki-laki dan perempuan dipisahkan secara lingkungan, material, simbolis. SUMBER: SAMOVAR POTTER ( INTERCULTURAL COMMUNICATIONS)

CONTRADICTIONS OF CAPITALISM

The term is associated with Karl Marx (1818-1883) who claimed that capitalist societies suffered from two unresolvable problems that would prevent both social harmony and a stable economic life. First, Marx assumed that the competitive processes of a capitalist market society would lead to a concentration of capital ownership in fewer and fewer hands. Marx built this claim on the assumption, which he holds in common with laissez faire economics, that a competitive economy must lead inevitably to the elimination of some producers by others, there must be winners and losers and the winners would grow increasingly large. Capitalism, Marx argued, contrary to the general assumption of laissez faire economics, had an inherent tendency towards concentration of capital in oligopolies and monopolies. The concentration of capital involved, first of all, the displacement of the handworker and the craftsworker and increasing domination of factory-based technology. An industrial proletariat of wage workers emerged, and grew larger, as independent producers were eliminated by factory-based competition. Capitalist corporations grew more concentrated and larger, the number of individuals owning the means of production became fewer. The class structure becomes polarized and the economic and social conditions of the two opposed main classes more strongly contrasted, leading to political activation of the working class and prolonged conflict with the dominant bourgeois class through political and industrial organization. It is this development of social polarization that provides the unsolveable social or relational contradiction of capitalist society. The social organization of a capitalist society also presented an inherent structural contradiction in the economic dynamics of capitalism. While capitalism revolutionized the means of production by promoting the greatest economic development in human history, its class structure focused the capacity to consume in a tiny minority of the population. The mass social scale of production could not remain compatible with the concentration of wealth in fewer and fewer hands. As a result, there must be inherent instability, or anarchy, in the whole capitalist system of production. The social effects of such instability in turn must intensify the political struggle of social classes hastening the event SUMBER: (http://bitbucket.athabascau.ca) Online Dictionary of the Social Sciences of socialist revolution

HEGEMONY GRAMSCI

A concept of Italian Marxist Antonio Gramsci (1891-1937) which refers to the way that the political and social domination of the bourgeois class in capitalist society is pervasively expressed not only in ideologies but in all realms of culture and social organization. The comprehensive expression of the values of class divided society in social life lends this form of society an appearance of naturalness and inevitability that removes it from examination, criticism and challenge. While arising in the analysis of a class divided society the term is also used in discussion of a patriarchal society or a colonial society (DICTIONARY OF SOCIAL SCIENCE)

ASYIK

POSTMODERN

A difficult term to grasp and having somewhat different significance in architecture, literary criticism and art than in the social sciences. In social theory it is best seen as a rejection of central assumptions of the modern world or of what has been described as the ‘enlightenment project’. This project has had at least two core beliefs. First is the assumption that modern society will become more democratic and just because of our growing ability to rationally and objectively understand the community's best interests. Second is the assumption that scientists and social theorists hold a privileged viewpoint since they are taken to operate outside of local interests or bias. Each of these assumptions suggests the possibility of disinterested knowledge, universal truths and social progress. The late twentieth century writings of Michel Foucault (1929-1984) and Jean Francois Lyotard called these assumption into question. Foucault's work has argued that knowledge and power are always intertwined and that the social sciences, rather than empowering human actors, have made humans into objects of inquiry and have subjected them to knowledge legitimated by the claims of science. Similarly Lyotard has argued that social theory has always imposed meaning on historical events (think of the writing of Marx) rather than providing for the understanding of the empirical significance of events. This rejection of the idea of social and intellectual progress implies that people must accept the possibility of history having no meaning or purpose, abandon the idea that we can know what is or is not true and accept that science can never create and test theories according to universal scientific principles because there is no unitary reality from which such principles can be established. We are left living in a fragmented world with multiple realities, a suspicion of science or authoritative claims and many groups involved in identity politics in order to impose their reality on others. The clearest signs of a postmodern approach to sociology can be found in social constructionism, ethnomethodology and labeling theory. (sumber: Dictionary of Social Science (http://bitbucket.athabascau.ca)

Monday, May 17, 2010

CYNTIAKU

KOMUNIKASI

Salah satu teori komunikasi yang terkait dengan disiplin Ilmu politik dan psikologi adalah Teori Limited Effect menjelaskan - berdasarkan hasil penelitian – bahwa dalam kondisi tertentu, audiens terpengaruh dan dirugikan oleh televisi, tetapi dalam kondisi tertentu, televisi malah memberikan manfaat. Harold D. Lasswell seorang ahli politik dengan rumusan pendapatnya, “Who says what to whom in which channel with what effect” mendorong munculnya kajian politik yang didasari pada aspek perilaku. Rumusan Lasswell kemudian menjadi paradigma dominan dalam menentukan lingkup dan masalah atas penelitian komunikasi di Amerika. Model tersebut diinterpretasikan untuk memfokuskan kajian komunikasi pada pengaruh media. Sumbangan Lasswell pada metodologi analisis isi membantu pemahaman tentang propaganda yang dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam Perang Dunia kedua, tetapi analisis isi tersebut juga membantu untuk menciptakan propaganda. Studi empiris yang dilakukan pada era ini menandai apa yang disebutkan oleh Dance sebagai dimensi sudut pandang,apakah komunikasi berhasil, jika dilihat dari sudut pandang pengirim pesan. Sementara dari sudut pandang penerima akan bicara dalam kaitan dengan dimensi hasil yang diperoleh tentang bagaimana penerimaan atau pemahaman penerima terhadap isi pesan. Pengaruh dari disiplin ilmu poltik. Ilmu politik sebagai ilmu yang membahas kekuasaan, bagaimana memperoleh, menggunakan dan mempertahankan kekuasaan. Disiplin ilmu politik melihat komunikasi sebagai kegiatan yang penting untuk memengaruhi pihak-pihak yang diajak berkomunikasi. Dan mekanisme untuk memengaruhi pihak-pihak yang diajak berkomunikasi pada masa ini adalah melalui propaganda. Melalui propaganda, kekuasaan dapat diperoleh, digunakan dan dipertahankan. Ekspansi Nazi Jerman mencapai hasil yang gemilang dimana Joseph Goebells menjalankan praktik propaganda yang ditujukan ke Amerika Serikat dan memengaruhi kondisi politik dalam negeri Amerika Serikat. Propaganda saat itu ingin dibatasi tetapi hal itu berarti mengingkari hakekat demokrasi, maka ahli komunikasi diajak untuk mengatasi dilemma ini. Dalam perspektif mereka, propaganda dapat digunakan untuk kebaikan. Pada masa ini Harold Lasswell (ahli politik), John Dewey (psikologi), dan Walter Lippmann mencetuskan teori mengenai propaganda yang dipengaruhi oleh Behaviorisme dan Freudianisme. Jadi pada masa ini, komunikasi massa menjadi alat yang digunakan untuk mengatasi masalah yang terjadi dalam masyarakat. Dalam konteks yang terakhir ini, sesungguhnya artinya disiplin ilmu sosiologi dilibatkan dalam usaha untuk menyelesaikan masalah dalam masyarakat. Kegelisahan pemimpin Amerika Serikat pada propaganda, kemudian justru membuat mereka menjadikan kajian komunikasi massa diintensifkan berkaitan propaganda. Lebih lanjut propaganda bahkan dimanfaatkan oleh Amerika Serikat pada masa Perang Dunia ke II. Pengaruh disiplin ilmu politik terlihat nyata dalam usaha untuk memengaruhi pandangan anggota masyarakat melalui propaganda, Lasswell sebagai seorang ahli politik dengan rumusan pendapatnya, “Who says what to whom in which channel with what effect” mendorong munculnya kajian politik yang didasari pada aspek perilaku . Artinya di sini, disiplin ilmu politik saling jalin dengan ilmu psikologi.

KOMUNIKASI SELINTAS PANDANG

lmu komunikasi yang dikenal sampai sekarang adalah disiplin ilmu yang berumur relatif lebih muda jika dibandingkan dengan sosiologi, biologi, astronomi, fisika bahkan filsafat. Dalam sejarah perkembangan ilmu komunikasi, kajian ilmu komunikasi berakar dari ilmu politik (Dahlan, 1990:6). Schramm sendiri mengindikasikan Harold Lasswell sebagai salah satu Perintis Komunikasi modern, adalah juga ahli ilmu politik. Komunikasi waktu itu lebih banyak menelaah masalah propaganda dan opini publik. Dalam perkembangan selanjutnya komunikasi mulai dilihat sebagai ilmu ketika sosiologi (dimulai oleh P. Lazarsfeld) dan psychologi social (yang dirintis oleh Carl Hovland) memberikan kontribusi terhadap telaah fenomena komunikasi massa waktu itu. Rintisan sosiologi dan psikologi sosial memberikan kontribusi soal perspektif masyarakat yang mendapatkan pengaruh media massa. Definisi komunikasi sendiri sangat banyak bahkan Dance dan Larson (dalam Miller, 2005:3) pernah menyatakan terdapat 126 definisi komunikasi. Salah satu definisi itu menyebut bahwa Komunikasi adalah keseluruhan prosedur yang mana prosedur tersebut membuat pesan tertentu mempengaruhi yang lain c.one which would inclue the procedures by means of which one mechanism affects another mechanism (Weaver, 1949:3). Carl Hovland yang punya latar belakang Psikologi menyatakan bahwa komunikasi adalah proses di mana seorang individu (komunikator) mentransmisikan stimuli untuk memodifikasi atau mengubah perilaku individu lainnya (Hovland, 1953). Grebner (dalam Miller, 2005: 4) menyatakan bahwa komunikasi adalah interaksi sosial melalui simbol dan sistem pesan. Dari pernyataan-pernyataan itu jelaslah komunikasi tidak mempunyai definisi tunggal. Komunikasi lebih merupakan proses penyampaian pesan melalui simbol-tanda yang dilakukan secara transaksional antara penyampai pesan dengan para penerima pesan dengan tujuan tertentu (disesuaikan dengan kepentingan komunikator). Karena definisi yang begitu banyak maka tidak mengherankan apabila dalam konseptualisasi komunikasi terdapat point of convergence dan point of divergence.(Miller, 2005: 5-11). Definisi umum (point of convergence) dari komunikasi terdiri dari definisi komunikasi sebagai proses, komunikasi sebagai sesuatu yang transaksional dan komunikasi sebagai sesuatu yang simbolik. Komunikasi sebagai proses adalah pemahaman bahwa titik utama yang menjadi perhatian sekian banyak definisi komunikasi terletak pada proses. Komunikasi sebagai proses menyiratkan bahwa komunikasi adalah sesuatu yang berkelanjutan, kompleks dan tidak arbitrer (mana suka). Komunikasi sebagai sesuatu yang transaksional berarti bahwa komunikasi tidak hanya sekedar proses dan interaksional melainkan terjadinya intensifikasi hubungan timbal balik antara komunikator, komunikan, pesan, efek dan sebagainya. Dengan begitu komunikasi merupakan sesuatu yang simbolik menyiratkan bahwa ketika komunikasi berproses melalui sesuatu yang transaksional maka hal esensial yang dibutuhkan adalah pemaknaan yang berangkat dari simbol-simbol yang dipakai dalam tindakan komunikasi tersebut. Berbeda dengan sudut pandang dalam konteks definisi umum, point of divergence lebih melihat pusaran definisi tersebar dalam beberapa karakteristik. Point pertama adalah poin komunikasi sebagai aktivitas sosial. Point ini merujuk konseptualisasi yang tidak sama tapi berada dalam konteks relasi sosial yang beragam dan mempunyai impak terhadap kehidupan sosial. Konseptualisasi relasi sosial dan komunikasi mengakibatkan bahwa komunikasi mempunyai level sosial dari antar pribadi sampai komunikasi massa, termasuk di dalamnya proses kognitif dalam proses interaksi komunikatif. Point kedua adalah komunikasi berhubungan dengan tindakan komunikatif dan intensionalitas bahwa perspektif komunikasi tidak hanya berhenti pada masalah perspektif sumber komunikasi melainkan juga sampai pada masalah perpektif penerima, dan perspektif pesan. Dilihat dari perkembangan ilmu komunikasi maka terdapat tiga bidang ilmu yang memberikan kontribusi konkret terhadap perkembangan ilmu komunikasi. Ilmu-ilmu tersebut adalah ilmu politik, sosiologi, dan psikologi. Ilmu politik memberikan ruang pertama pada pembahasan propaganda politik berikut pengaruhnya kepada masyarakat. Sosiologi memberikan tempat di mana komunikasi tidak bisa melepaskan diri dari masalah interaksi antar manusia. Psikologi memberikan kajian pelengkap mengenai masalah komunikasi yang berkaitan dengan perilaku psikologis seorang manusia (individu) maupun tindakan masyarakat. seperti ilmu matematika (yang persis juga dipakai oleh Shannon dalam menjelaskan persoalan mendasar komunikasi), linguistik (yang turut membantu komunikasi dalam mempelajari karakteristik pesan dalam sebuah bahasa), biologi (yang turut membantuk komunikasi yang dipahami sebagai sebuah sistem jaringan yang saling terhubung satu sama lain). Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa memang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa komunikasi harus dipahami sebagai disiplin ilmu yang interdisipliner. Jalinan erat antara komunikasi dengan bidang ilmu di luar komunikasi memperlihatkan bahwa komunikasi merupakan disiplin ilmu yang masih berkembang, seturut dengan manusia yang mempunyai kecenderungan berkembang pula. Terkait dengan komunikasi, Miller menelaah tentang penggunaan dari teori-teori komunikasi yang digunakan dalam berbagai konteks komunikasi yang berbeda. Telaah teori dalam konteks komunikasi diperlukan untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi bekerja, dan proses itu melekat dalam jalinan sosial dalam kehidupan manusia. Pembahasan tentang teori dalam konteks komunikasi dilakukan untuk melihat bagaimana proses komunikasi bekerja dalam situasi yang spesifik dan dalam Konteks komunikasi yang khusus pula. Konteks komunikasi yang dimaksud Miller dalam bukunya berkaitan dengan penggunaan komunikasi yang melibatkan banyak orang dan menyentuh level komunikasi yang berbeda. Dalam hal ini Miller membahas bagaimana teori komunikasi bekerja dalam berbagai level komunikasi dan sekaligus melihat bagaimana teori komunikasi itu dibangun dalam berbagai level yang berbeda tersebut. Konteks komunikasi yang dimaksud di sini meliputi lima macam konteks (level) yang berbeda. Kelimanya meliputi: (organizational communication theory) teori-teori komunikasi organisasi, (small group communication theory) teori-teori komunikasi kelompok,(media processing and effects theory) teori-teori prosesing dan efek media,(media and society theory) teori-teori media dan masyarakat, dan (culture and communication theory). Dari lima kajian ini, terlihat juga adanya perspektif komunikasi terhadap pokok kajian lain. Secara garis besar teori-teori dalam komunikasi organisasi meliputi beragam persfektif disiplin ilmu yang turut memperkaya disiplin ilmu komunikasi. Sifat beragam ini dapat kita lihat dari beragamnya disiplin ilmu yang turut mempengaruhi ilmu komunikasi, yang meliputi, di antaranya : ilmu manajemen, ilmu sosiologi, ilmu sosial, ilmu psikologi industry, dan sub disiplin ilmu komunikasi sendiri, komunikasi organisasi. Contoh dari perpektif komunikasi saat mengkaji bidang lain adalah Teori-teori komunikasi dalam organisasi. Teori-teori dalam konteks ini bukanlah hal yang baru, karena sesungguhnya oleh dispilin ilmu yang lain sudah dipelajari sebelumnya. Salah seorang yang terkenal tentang teori organisasi adalah Max Weber dengan teori birokrasinya, atau Henrry Fayol dengan teori classical management. Kesemua teori tersebut menjelaskan suatu perspektif bahwa organisasi diatur oleh suatu standarisasi, spesialisasi dan prediktibilitas. Demikian juga halnya dalam memahami komunikasi keorganisasian, biasanya kita melihat ke dalam organisasi itu sendiri. Dimana dalam suatu organisasi memiliki system tersendiri karena ia memiliki sifat hirarkis order dan hirarkis tersebut menyatu dalam sebuah subsistem dan suprasistem yang terbuka dengan faktor lingkungan. Karena itu untuk memahami keorganisasian kita mesti memahami timbal balik di antara komponen yang ada di dalam system, layaknya sebuah mesin, saling bergantung satu sama lain dengan komponen (bagian) mesin yang lain. Pada umumnya penelitian dalam komunikasi organisasi memberi gambaran umum tentang konsep-konsep yang ada dalam komunikasi, seperti : feedback, jejaring komunikasi, dan arus informasi. Sebagian yang tidak puas terhadap aspek hasil penelitian yang bersifat seperti mesin itu, lalu membuat pendekatan lain dengan menggunakan pendekatan interpretive methapor, cultural methapor. Kedua pendekatan yang disebutkan terakhir memperkaya penelitian teori komunikasi organisasi dalam bentuk local understanding dan teori ini membantu memberi refleksi atas kompleksitasnya dalam dunia sosial dan proses konstruksi yang terjadi di dalamnya. Sesungguhnya ada empat teori yang digunakan dalam konteks komunikasi organisasi, yaitu teori organisasi weick, teori strukturasi giddens, teori percakapan dan teks taylor, serta teori control concertive Baker and cheney. Dua teori yang disebutkan di muka berasal dari di luar disiplin ilmu komunikasi, sedang dua yang terakhir berasal dari disiplin ilmu komunikasi.