--> Skip to main content

TIGA PERSPEKTIF KOMUNIKASI MILLER

Miller dalam membahas perkembangan teori komunikasi menggunakan tiga persfektif yaitu; persfektif post positivis, persfektif interpretif, dan persfektif kritis. Pandangan persfektif post positivis dalam Miller menitik beratkan penemuan teori melalui akar sejarah positivis yang berasal dari filosofi ilmu pasti. Akar sejarah positivis berasal dari perbedaan antara mazhab klasik positif dan mazhab logika positif.

August Comte adalah Bapak mazhab klasik positif menitik beratkan pada tiga dalam perkembangan memperoleh pengetahuan yaitu melalui pernyataan teologis, metafisik, dan logis (positif). Menurut paham klasik positif bahwa pondasi pengetahuan didapat melalui pengamatan fenomena yang bersifat empiris dan dapat diamati dan dipahami melalui pemahaman logis formal dalam hukum ilmu alam. Sedangkan lingkaran Viena adalah mazhab yang mengusung tidak hanya yang logis positif saja yang dapat dikatakan pengetahuan namun metafisik pun dapat dibuktikan melalui pemahaman.

Pandangan persfektif interpretif dalam Miller sejalan dengan pemikiran Immanuel Kant dan Max Weber yang menolak pandangan kaum positivis, Kanta dan Weber mengatakan bahwa manusia memiliki pengetahuan yang terlepas dari dunia luar dan manusia terlibat secara subjektif dalam kegiatan sosialnya ,hingga menurut mereka unsure subjektif dan pemahaman individu perlu dipertimbangkan dalam mencari dan menemukan pengetahuan. Dalam kaitan ini tradisi hermenetika,fenomenologi, dan interaksi simbolik digunakan sebagai metode untuk memahami kehidupan sosial manusia.

Tokoh yang turut memberikan sumbangsih dalam persfektif ini adalah : Dilthey untuk hermenetika, Husserl untuk fomenologi, dan George Herbert Mead untuk interaksi simbolik. Konsep penting dalam hermenetis yaitu bahwa pentingnya “memahami” sebagai tujuan dari analisa sosial, sedangkan dalam fenomenologi esensinya bahwa manusia “memahami” dunia melalui ide centralnya dalam aktifitas keseharian, konsep pengalaman dapat terjadi melalui konsep yang didapat begitu saja melalui pengalaman sehari-hari sebagai pengetahuan bersama. Dalam konsep fenomenologi pentingnya memahami kehidupan keseharian sebagai objek penelitian.

Untuk interaksi simbolik esensi yang harus dipahami dalam hal ini adalah bahwa manusia berfikir dan berinteraksi dan melakukan interpretasi dan bermediasi di dalam masyarakat sehingga melaluio jalan tersebut pemahaman bangkit melalui interaksi dalam kelompok sosial masyarakat. Konsep penting yang harus diperhatikan dalam interaksi simbolik adalah, significant others, generalized others, dan role taking. Konsep ini secara bersama membawa konsep interaksi simbolik sebagai gambaran yang kompleks antar persepsi dan psikologi individu, komunikasi simbolik, dan aturan sosial serta kepercayaan yang di dalamnya terkonstruksi dalam kehidupan sosial masyarakat. Pandangan persfektif Kritis.

Akar persfektif kritis mengambil pemahaman pemikiran Marx. Menurut Marx pengalaman eksternal adalah salah satu ciptaan manusia yang disubjektifkan. Proses dari subjektifasi dan reification membuat seseorang terasing dalam dunianya karena adanya unsur dominasi yang dilakukan kelompok tertentu sehingga seseorang tercerabut dari dunianya sendiri. Dalam hal ini adanya dominasi kekuasaan terhadap struktur kelas masyarakat tertentu menjadi titik perhatian pemikiran Marx, hubungan manusia / seseorang dan masyarakat lebih dilihat karena adanya kontrol sosial yang kentat sehingga menimbulkan ketimpangan.

Sejalan dengan garis pemikiran Marx, kelompok Frankfurt meggunakan landasan berpikir Marx dalam mengkritisi sesuatu, karena dalam kehidupan ini ada banyak ketimpangan yang terjadi maka banyak hal pula yang perlu dikritisi dalam kehidupan sosial kita. Persfektif kritis melahirkan teori kritis, di mana sudut pandang teori kritis senantiasa melihat adanya unsur dominasi dan ketimpangan yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat. Tokoh yang berpengaruh dalam teori ini selain Marx, adalah Gramsci, Adorno, Horkeimer, Giddens, Habermas.

Cultural studies, post colonial, feminist, adalah sedikit diantaranya yang masuk dalam kelompok teori kritis ini. Kajian dalam bidang ilmu komunikasi juga menelaah dan mengkaji dari sudut persfektif ini. Bahkan dalam studi kebudayaan kita dapat melihat adanya dominasi terhadap kaum minoritas dalam membentuk praktek budaya tersembunyi dalam ruang publik, demikian juga dalam studi feminis dan gender, unsur dominasi partriakhi dan dominasi gender dapat diurai di sini.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar