--> Skip to main content

KOMUNIKASI SELINTAS PANDANG

lmu komunikasi yang dikenal sampai sekarang adalah disiplin ilmu yang berumur relatif lebih muda jika dibandingkan dengan sosiologi, biologi, astronomi, fisika bahkan filsafat. Dalam sejarah perkembangan ilmu komunikasi, kajian ilmu komunikasi berakar dari ilmu politik (Dahlan, 1990:6). Schramm sendiri mengindikasikan Harold Lasswell sebagai salah satu Perintis Komunikasi modern, adalah juga ahli ilmu politik.

Komunikasi waktu itu lebih banyak menelaah masalah propaganda dan opini publik. Dalam perkembangan selanjutnya komunikasi mulai dilihat sebagai ilmu ketika sosiologi (dimulai oleh P. Lazarsfeld) dan psychologi social (yang dirintis oleh Carl Hovland) memberikan kontribusi terhadap telaah fenomena komunikasi massa waktu itu. Rintisan sosiologi dan psikologi sosial memberikan kontribusi soal perspektif masyarakat yang mendapatkan pengaruh media massa. Definisi komunikasi sendiri sangat banyak bahkan Dance dan Larson (dalam Miller, 2005:3) pernah menyatakan terdapat 126 definisi komunikasi.

Salah satu definisi itu menyebut bahwa Komunikasi adalah keseluruhan prosedur yang mana prosedur tersebut membuat pesan tertentu mempengaruhi yang lain c.one which would inclue the procedures by means of which one mechanism affects another mechanism (Weaver, 1949:3). Carl Hovland yang punya latar belakang Psikologi menyatakan bahwa komunikasi adalah proses di mana seorang individu (komunikator) mentransmisikan stimuli untuk memodifikasi atau mengubah perilaku individu lainnya (Hovland, 1953). Grebner (dalam Miller, 2005: 4) menyatakan bahwa komunikasi adalah interaksi sosial melalui simbol dan sistem pesan.

Dari pernyataan-pernyataan itu jelaslah komunikasi tidak mempunyai definisi tunggal. Komunikasi lebih merupakan proses penyampaian pesan melalui simbol-tanda yang dilakukan secara transaksional antara penyampai pesan dengan para penerima pesan dengan tujuan tertentu (disesuaikan dengan kepentingan komunikator). Karena definisi yang begitu banyak maka tidak mengherankan apabila dalam konseptualisasi komunikasi terdapat point of convergence dan point of divergence.(Miller, 2005: 5-11). Definisi umum (point of convergence) dari komunikasi terdiri dari definisi komunikasi sebagai proses, komunikasi sebagai sesuatu yang transaksional dan komunikasi sebagai sesuatu yang simbolik. Komunikasi sebagai proses adalah pemahaman bahwa titik utama yang menjadi perhatian sekian banyak definisi komunikasi terletak pada proses. Komunikasi sebagai proses menyiratkan bahwa komunikasi adalah sesuatu yang berkelanjutan, kompleks dan tidak arbitrer (mana suka).

Komunikasi sebagai sesuatu yang transaksional berarti bahwa komunikasi tidak hanya sekedar proses dan interaksional melainkan terjadinya intensifikasi hubungan timbal balik antara komunikator, komunikan, pesan, efek dan sebagainya. Dengan begitu komunikasi merupakan sesuatu yang simbolik menyiratkan bahwa ketika komunikasi berproses melalui sesuatu yang transaksional maka hal esensial yang dibutuhkan adalah pemaknaan yang berangkat dari simbol-simbol yang dipakai dalam tindakan komunikasi tersebut.

Berbeda dengan sudut pandang dalam konteks definisi umum, point of divergence lebih melihat pusaran definisi tersebar dalam beberapa karakteristik. Point pertama adalah poin komunikasi sebagai aktivitas sosial. Point ini merujuk konseptualisasi yang tidak sama tapi berada dalam konteks relasi sosial yang beragam dan mempunyai impak terhadap kehidupan sosial. Konseptualisasi relasi sosial dan komunikasi mengakibatkan bahwa komunikasi mempunyai level sosial dari antar pribadi sampai komunikasi massa, termasuk di dalamnya proses kognitif dalam proses interaksi komunikatif. Point kedua adalah komunikasi berhubungan dengan tindakan komunikatif dan intensionalitas bahwa perspektif komunikasi tidak hanya berhenti pada masalah perspektif sumber komunikasi melainkan juga sampai pada masalah perpektif penerima, dan perspektif pesan.

Dilihat dari perkembangan ilmu komunikasi maka terdapat tiga bidang ilmu yang memberikan kontribusi konkret terhadap perkembangan ilmu komunikasi. Ilmu-ilmu tersebut adalah ilmu politik, sosiologi, dan psikologi. Ilmu politik memberikan ruang pertama pada pembahasan propaganda politik berikut pengaruhnya kepada masyarakat. Sosiologi memberikan tempat di mana komunikasi tidak bisa melepaskan diri dari masalah interaksi antar manusia.

Psikologi memberikan kajian pelengkap mengenai masalah komunikasi yang berkaitan dengan perilaku psikologis seorang manusia (individu) maupun tindakan masyarakat. seperti ilmu matematika (yang persis juga dipakai oleh Shannon dalam menjelaskan persoalan mendasar komunikasi), linguistik (yang turut membantu komunikasi dalam mempelajari karakteristik pesan dalam sebuah bahasa), biologi (yang turut membantuk komunikasi yang dipahami sebagai sebuah sistem jaringan yang saling terhubung satu sama lain). Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa memang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa komunikasi harus dipahami sebagai disiplin ilmu yang interdisipliner.

Jalinan erat antara komunikasi dengan bidang ilmu di luar komunikasi memperlihatkan bahwa komunikasi merupakan disiplin ilmu yang masih berkembang, seturut dengan manusia yang mempunyai kecenderungan berkembang pula. Terkait dengan komunikasi, Miller menelaah tentang penggunaan dari teori-teori komunikasi yang digunakan dalam berbagai konteks komunikasi yang berbeda. Telaah teori dalam konteks komunikasi diperlukan untuk mengetahui bagaimana proses komunikasi bekerja, dan proses itu melekat dalam jalinan sosial dalam kehidupan manusia. Pembahasan tentang teori dalam konteks komunikasi dilakukan untuk melihat bagaimana proses komunikasi bekerja dalam situasi yang spesifik dan dalam Konteks komunikasi yang khusus pula.

Konteks komunikasi yang dimaksud Miller dalam bukunya berkaitan dengan penggunaan komunikasi yang melibatkan banyak orang dan menyentuh level komunikasi yang berbeda. Dalam hal ini Miller membahas bagaimana teori komunikasi bekerja dalam berbagai level komunikasi dan sekaligus melihat bagaimana teori komunikasi itu dibangun dalam berbagai level yang berbeda tersebut. Konteks komunikasi yang dimaksud di sini meliputi lima macam konteks (level) yang berbeda. Kelimanya meliputi: (organizational communication theory) teori-teori komunikasi organisasi, (small group communication theory) teori-teori komunikasi kelompok,(media processing and effects theory) teori-teori prosesing dan efek media,(media and society theory) teori-teori media dan masyarakat, dan (culture and communication theory). Dari lima kajian ini, terlihat juga adanya perspektif komunikasi terhadap pokok kajian lain.

Secara garis besar teori-teori dalam komunikasi organisasi meliputi beragam persfektif disiplin ilmu yang turut memperkaya disiplin ilmu komunikasi. Sifat beragam ini dapat kita lihat dari beragamnya disiplin ilmu yang turut mempengaruhi ilmu komunikasi, yang meliputi, di antaranya : ilmu manajemen, ilmu sosiologi, ilmu sosial, ilmu psikologi industry, dan sub disiplin ilmu komunikasi sendiri, komunikasi organisasi. Contoh dari perpektif komunikasi saat mengkaji bidang lain adalah Teori-teori komunikasi dalam organisasi. Teori-teori dalam konteks ini bukanlah hal yang baru, karena sesungguhnya oleh dispilin ilmu yang lain sudah dipelajari sebelumnya. Salah seorang yang terkenal tentang teori organisasi adalah Max Weber dengan teori birokrasinya, atau Henrry Fayol dengan teori classical management. Kesemua teori tersebut menjelaskan suatu perspektif bahwa organisasi diatur oleh suatu standarisasi, spesialisasi dan prediktibilitas.

Demikian juga halnya dalam memahami komunikasi keorganisasian, biasanya kita melihat ke dalam organisasi itu sendiri. Dimana dalam suatu organisasi memiliki system tersendiri karena ia memiliki sifat hirarkis order dan hirarkis tersebut menyatu dalam sebuah subsistem dan suprasistem yang terbuka dengan faktor lingkungan. Karena itu untuk memahami keorganisasian kita mesti memahami timbal balik di antara komponen yang ada di dalam system, layaknya sebuah mesin, saling bergantung satu sama lain dengan komponen (bagian) mesin yang lain. Pada umumnya penelitian dalam komunikasi organisasi memberi gambaran umum tentang konsep-konsep yang ada dalam komunikasi, seperti : feedback, jejaring komunikasi, dan arus informasi. Sebagian yang tidak puas terhadap aspek hasil penelitian yang bersifat seperti mesin itu, lalu membuat pendekatan lain dengan menggunakan pendekatan interpretive methapor, cultural methapor. Kedua pendekatan yang disebutkan terakhir memperkaya penelitian teori komunikasi organisasi dalam bentuk local understanding dan teori ini membantu memberi refleksi atas kompleksitasnya dalam dunia sosial dan proses konstruksi yang terjadi di dalamnya.

Sesungguhnya ada empat teori yang digunakan dalam konteks komunikasi organisasi, yaitu teori organisasi weick, teori strukturasi giddens, teori percakapan dan teks taylor, serta teori control concertive Baker and cheney. Dua teori yang disebutkan di muka berasal dari di luar disiplin ilmu komunikasi, sedang dua yang terakhir berasal dari disiplin ilmu komunikasi.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar